Hidupkan Asa Mustahik, UPZ PKT Bantu Pengobatan Abidzar dan Kevin Pratama

Bermain merupakan suatu hiburan yang menyenangkan khususnya bagi setiap anak dimanapun berada. Namun hal itu (bermain) agaknya sulit dinikmati oleh 2 orang anak Bontang, Abidzar dan Kevin Pratama yang mana saat ini mereka masih berkutat dalam kondisi sakit.


Nama Abidzar sempat membuat geger jagad maya, sebabnya adalah pada hari Sabtu, 28 Februari 2026 ia menjadi korban serangan buaya. Kejadiannya begitu singkat dan dramatis. Saat itu sekitar jam 8 pagi Abidzar berenang bersama teman-temannya di area pesisir Selambai. Hingga sekitar jam 10 dirinya masih asyik menikmati keindahan laut di antara cuaca langit yang cerah seketika tanpa disadari ada bahaya yang mengintai, seekor buaya muara berukuran lebih dari 4 meter menyerang pria bertubuh mungil itu.
Sekejap saja sang predator menyeret tubuh Abidzar yang meronta berusaha melepaskan gigitan sang buaya. Menurut keterangan saksi duel maut itu terjadi sekitar 20 menit lamanya, hingga pada akhirnya takdir baik memihak kepada Abidzar yang bisa selamat dari tragedi berdarah itu.
Pasca kejadian itu, Abidzar dilarikan ke rumah sakit dan langsung mendapat penanganan intensif dari tim dokter. Bekas gigitan buaya meninggalkan luka serius hingga ia harus menjalani operasi di sekitar perut dan tangan. Dalam hal ini UPZ Pupuk Kaltim turut berpartisipasi memberikan bantuan pengobatan dan perawatan abidzar selama 5 hari dikarenakan terbatasnya akses jaminan kesehatan yang dimiliki korban. Ketua UPZ Pupuk Kaltim Ahmad Rois melalui program kesehatan secara langsung memberikan bantuan biaya pengobatan ananda Abidzar dengan total Rp12.222.220.

Dukungan untuk Kevin
Selain Abidzar, kisah memilukan juga dialami Kevin Pratama. Sejak usia 6 bulan Kevin ternyata menderita Phtisis Bulbi, atau istilah medis untuk menyebut kerusakan pada fungsi organ mata. Hal ini menjadi rumit karena tidak ditangani sejak dini. Kevin diasuh oleh kakek dan neneknya yang dalam keseharian bekerja sebagai penjual es kelapa dan warung kecil-kecilan. Mereka pun mengaku bingung dengan kondisi cucunya, pasalnya telah beberapa kali mereka membawa Kevin ke dokter untuk melakukan konsultasi namun hasilnya mereka diminta untuk merujuk Kevin ke rumah sakit khusus mata yang ada di Bandung.
“Kami tidak punya biaya untuk mengantar Kevin ke Bandung, kami pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa” ucap Puguh Sudiyono kakeknya.
Diantara kesedihan itu ternyata masih ada celah harapan tersisa. Melalui advokasi UPZ Pupuk Kaltim bersama Dinas Sosial kota Bontang, Kevin bisa berangkat ke Bandung, pada 19 April 2026. Disana nanti Kevin akan menjlani proses observasi dan penanganan secara intensif untuk bisa mengetahui lebih lanjut seputar penyakit yang dideritanya.[i]